Sabtu, 29 September 2018

Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget


Teori perkembangan kognitif menurut Jean Piaget terbagi menjadi 4 tahapan berpikir. Tahap sensori-motor, praoperasional, operasional konkret dan operasional formal.

Tahap sensori-motor yang terjadi pada usia 0-2 tahun terbatas pada gerak refleks, bahasa awal dan ruang waktu yang sedang terjadi. Tahapan ini biasa disebut masa discriminating dan labeling. Tahap ini biasanya ditandai dengan rasa ingin tahu anak untuk menyentuh benda-benda di sekitarnya untuk mengetahui perubahan yang terjadi atas perbuatannya. Disini anak masih menggunakan benda konkret dalam pembelajarannya.

Tahap praoperasional pada usia 2-7 tahun dimana anak mulai mencoba mengembangkan kemampuannya dalam menerima rangsangan dari luar, mulai dari bahasa, audio maupun visualnya. Tahapan ini biasa disebut masa intuitif. Pada tahapan ini anak cenderung menjadi egosentris yaitu melihat apapun menurut pandangannya sendiri. Disini anak sudah bisa diberikan alat peraga yang bersifat semi konkret.

Tahap operasional konkret pada usia 7-11 tahun dimana anak mulai mampu menggunakan logikanya. Anak sudah mampu berpikir logis dengan tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, mengelompokkan, mengurutkan, serta mengartikan informasi dari orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.

Tahap operasional formal pada usia 11-15 tahun dimana anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, serta berpikir abstrak. Anak sudah mampu mengenali hal abstrak karena disini anak sudah mampu memahami konsep yang sebelumnya telah didapat.

Tugas kami lebih berfokus pada tingkat masa perkembangan di usia 2-7 tahun maupun 7-11 tahun. Disini anak harus sudah diberikan asesmen guna mengetahui kemampuan, kelebihan, kekurangan maupun kebutuhan anak. Dengan melihat hasil asesmen, kita akan mampu menyusun strategi pembelajaran bagi anak guna memenuhi kebutuhan pendidikannya sesuai usia perkembangannya.

#strategipembelajaranabk#plbuninus

Sabtu, 23 Desember 2017

Bayangan Hitam Mimpi Tunanetra

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).
Bagaimana dengan mimpi yang dimiliki para tunanetra?
Klasifikasi tunanetra dibagi menjadi 2, yaitu low vision atau kurang lihat dan totally blind atau buta total. Low vision masih dapat melihat lingkungannya walaupun tidak dalam cakupan wilayah yang luas. Totally blind sudah tidak mampu melihat lingkungannya lagi sehingga tidak dapat menggambarkan apa yang ada disekitarnya secara visual.
Lalu bagaimana bisa bermimpi padahal tidak memiliki pengalaman visual?
Tunanetra bisa terjadi sejak dilahirkan maupun setelah beberapa waktu setelah kelahiran. Bagi mereka yang mengalami tunanetra setelah sekitar 7 bulan, maka akan mendapatkan pengalaman visual dari lingkungannya walaupun sangat terbatas objek di sekitarnya saja.
Lalu bagaimana dengan mereka yang tunanetra sejak dilahirkan?
Mereka yang tunanetra sejak dilahirkan tentunya sama sekali tidak mempunyai pengalaman visual apapun tentang lingkungannya. Mereka hanya dapat gambaran lingkungannya dari suara, bau, rasa, suhu, maupun tekstur yang dihasilkan oleh lingkungan.
Jika tidak mendapatkan pengalaman visual, lalu apa yang ada di mimpi tunanetra?
Dari pengalaman lain selain visual, maka tunanetra hanya mampu membayangkan segala sesuatu dari tekstur, suara, bau, suhu, rasa saja. Itu berarti bahwa mimpi tunanetra hanya sebatas gambaran yang tidak terdapat visualnya saja.
Dikutip dari Aol.com. Suatu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine berfokus kepada mimpi orang buta. Para peneliti melakukan telaah atas sejumlah kelompok orang yang buta sejak lahir, mereka yang buta belakangan, dan mereka yang dapat melihat.
Segera sesudah bermimpi, mereka ditanyai tentang pengalaman-pengalaman sensori mereka tentang apa yang dilihat dan apa yang dirasa. Demikian juga dengan perasaan emosi mereka dalam mimpi tersebut. Mereka juga ditanyai tentang tema-tema, seperti ‘jatuh’ atau kemampuan terbang.
Di antara responden yang buta, kebanyakan isi mimpi mereka berkaitan dengan hal-hal yang mereka dengar. Sebanyak 86% peserta mengalami suara dan ucapan, dibandingkan dengan angka 64% pada mereka yang dapat melihat. Para peneliti pada dasarnya mengatakan bahwa lebih panjangnya masa seseorang dapat melihat dalam hidup mereka, lebih banyaklah isi visual dalam mimpi mereka.
Kaum tunanetra juga mengalami lebih banyak rasa sentuhan dalam mimpi mereka, yakni 70% dibandingkan dengan 45% pada mereka yang dapat melihat. Mereka yang buta juga lebih sering mengecap dan membaui daripada mereka yang dapat melihat.
Berdasarkan isi emosianal dan tema, semua kelompok melaporkan hasil yang serupa, tapi mereka yang tidak pernah bisa melihat sama sekali ternyata jauh lebih sering mengalami mimpi buruk, yaitu sekitar empat kali lebih sering mengalami mimpi buruk dibandingkan dengan mereka yang buta belakangan atau yang dapat melihat.
Bagaimanakah seseorang yang tidak pernah bisa melihat memiliki lebih banyak mimpi buruk dibandingkan yang lainnya? Para ilmuwan tidak terlalu yakin, tapi mereka memiliki teori mengenai hal ini.
Mimpi buruk adalah cara otak kita memproses dan menghadapi ancaman-ancaman terhadap keamanan kita, jadi tidaklah mengherankan ketika kaum tuna netra lebih sering bermimpi buruk, misalnya mimpi tertabrak mobil, mimpi tersesat, atau mimpi kehilangan anjing penuntun.
Secara umum, belum jelas apakah ini berarti bahwa kaum tunanetra mengalami lebih banyak ketakutan dalam hidup mereka. (Ein)
Intinya adalah bahwa tunanetra juga bisa bermimpi, namun hanya sebatas gambaran suara, bau, sentuhan, serta rasa. Karena mereka yang tunanetra memiliki lebih banyak rasa takut terhadap lingkungannya, maka kebanyakan mimpi yang dialami tunanetra juga merupakan mimpi buruk yang menjelaskan gambaran ancaman dan ketakutan mereka di dunia nyata.


http://global.liputan6.com/read/2068006/penasaran-seperti-apa-bentuk-mimpi-kaum-tuna-netra



Shodaqoh