Mimpi
adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran,
pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang
disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).
Bagaimana
dengan mimpi yang dimiliki para tunanetra?
Klasifikasi
tunanetra dibagi menjadi 2, yaitu low
vision atau kurang lihat dan totally
blind atau buta total. Low vision masih dapat melihat lingkungannya
walaupun tidak dalam cakupan wilayah yang luas. Totally blind sudah tidak mampu
melihat lingkungannya lagi sehingga tidak dapat menggambarkan apa yang ada
disekitarnya secara visual.
Lalu
bagaimana bisa bermimpi padahal tidak memiliki pengalaman visual?
Tunanetra
bisa terjadi sejak dilahirkan maupun setelah beberapa waktu setelah kelahiran.
Bagi mereka yang mengalami tunanetra setelah sekitar 7 bulan, maka akan
mendapatkan pengalaman visual dari lingkungannya walaupun sangat terbatas objek
di sekitarnya saja.
Lalu
bagaimana dengan mereka yang tunanetra sejak dilahirkan?
Mereka
yang tunanetra sejak dilahirkan tentunya sama sekali tidak mempunyai pengalaman
visual apapun tentang lingkungannya. Mereka hanya dapat gambaran lingkungannya
dari suara, bau, rasa, suhu, maupun tekstur yang dihasilkan oleh lingkungan.
Jika
tidak mendapatkan pengalaman visual, lalu apa yang ada di mimpi tunanetra?
Dari
pengalaman lain selain visual, maka tunanetra hanya mampu membayangkan segala
sesuatu dari tekstur, suara, bau, suhu, rasa saja. Itu berarti bahwa mimpi
tunanetra hanya sebatas gambaran yang tidak terdapat visualnya saja.
Dikutip
dari Aol.com. Suatu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine berfokus kepada mimpi
orang buta. Para peneliti melakukan telaah atas sejumlah kelompok orang yang
buta sejak lahir, mereka yang buta belakangan, dan mereka yang dapat melihat.
Segera
sesudah bermimpi, mereka ditanyai tentang pengalaman-pengalaman sensori mereka
tentang apa yang dilihat dan apa yang dirasa. Demikian juga dengan perasaan
emosi mereka dalam mimpi tersebut. Mereka juga ditanyai tentang tema-tema,
seperti ‘jatuh’ atau kemampuan terbang.
Di
antara responden yang buta, kebanyakan isi mimpi mereka berkaitan dengan
hal-hal yang mereka dengar. Sebanyak 86% peserta mengalami suara dan ucapan,
dibandingkan dengan angka 64% pada mereka yang dapat melihat. Para peneliti
pada dasarnya mengatakan bahwa lebih panjangnya masa seseorang dapat melihat
dalam hidup mereka, lebih banyaklah isi visual dalam mimpi mereka.
Kaum
tunanetra juga mengalami lebih banyak rasa sentuhan dalam mimpi mereka, yakni
70% dibandingkan dengan 45% pada mereka yang dapat melihat. Mereka yang buta
juga lebih sering mengecap dan membaui daripada mereka yang dapat melihat.
Berdasarkan
isi emosianal dan tema, semua kelompok melaporkan hasil yang serupa, tapi
mereka yang tidak pernah bisa melihat sama sekali ternyata jauh lebih sering
mengalami mimpi buruk, yaitu sekitar empat kali lebih sering mengalami mimpi
buruk dibandingkan dengan mereka yang buta belakangan atau yang dapat melihat.
Bagaimanakah
seseorang yang tidak pernah bisa melihat memiliki lebih banyak mimpi buruk
dibandingkan yang lainnya? Para ilmuwan tidak terlalu yakin, tapi mereka
memiliki teori mengenai hal ini.
Mimpi
buruk adalah cara otak kita memproses dan menghadapi ancaman-ancaman terhadap
keamanan kita, jadi tidaklah mengherankan ketika kaum tuna netra lebih sering
bermimpi buruk, misalnya mimpi tertabrak mobil, mimpi tersesat, atau mimpi
kehilangan anjing penuntun.
Secara
umum, belum jelas apakah ini berarti bahwa kaum tunanetra mengalami lebih
banyak ketakutan dalam hidup mereka. (Ein)
Intinya
adalah bahwa tunanetra juga bisa bermimpi, namun hanya sebatas gambaran suara,
bau, sentuhan, serta rasa. Karena mereka yang tunanetra memiliki lebih banyak
rasa takut terhadap lingkungannya, maka kebanyakan mimpi yang dialami tunanetra
juga merupakan mimpi buruk yang menjelaskan gambaran ancaman dan ketakutan
mereka di dunia nyata.
http://global.liputan6.com/read/2068006/penasaran-seperti-apa-bentuk-mimpi-kaum-tuna-netra


